Dangdut, Goyang, dan Indonesia


Indonesia adalah dangdut dan dangdut adalah Indonesia. Begitulah kira-kira orang menyebut keakraban diantara keduanya. Padahal jika ditilik lebih jauh, dangdut bukanlah produk asli kebudayaan Indonesia, melainkan musik yang berasal dari India. Namun karena sudah tanggung disuka, lalu kita mengklaim dangdut sebagai milik Indonesia. Untung India tidak marah ketika produk kebudayaannya diklaim negara lain, tidak seperti kita yang marah ketika produk kebudayaannya di klaim Malaysia.
Sejak kemunculan Eliya Kaddam dengan Boneka India nya, hampir seluruh rakyat Indonesia mulai terserang virus dangdut. Dangdut bukan berasal dari singkatan Dadang Gendut, tapi berasal dari kata Dang dan Dut, sebuah bunyi ketukan yang berasal dari suara kendang, disebut begitu karena musik dangdut selalu menggunakan alat musik kendang. Selain itu pekikan suara cengkok sang biduan yang mendayu-dayu menambah kekhasan tersendiri dari dangdut, cocok lah untuk kuping orang melayu yang suka mendayu-dayu dan merayu-rayu. Dangdut dinilai sebagai musik terobosan baru, merakyat, dan enak dijadikan ajang joged dibandingkan musik-musik yang sudah lebih dahulu berkembang seperti, keroncong dan rock n roll. Karena keunikannya itu dangdut mendapat tempat tersendiri di masyarakat Indonesia, terutama masyarakat marjinalnya, masyarakat miskin tepatnya.
 Pada tahun-tahun berikutnya muncul Rhoma Irama, A. Rafiq, dan Elvie Sukaesih yang kemudian menjelma menjadi garda depan musik dangdut Indonesia. Rhoma menjadi raja dangdut, lalu Elvi Sukaesih menjadi ratunya, sementara A Rafiq gak kebagian posisi apa-apa, kasian deh lu. Status Rhoma dan Elvi sebagai raja dan ratu dangdut sampai sekarang masih belum tergantikan, padahal sudah lama, sudah tidak seru, sudah retro, sudah hampir 32 tahun, hampir menyamai Soeharto. Dan di tahun 80-90 an muncul kroni-kroni mereka yang sejenis semisal Camelia Malik, Evie Tamala, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Meggy Z, Mansyur S dan lain-lain. Gang-gang sempit di Indonesia pun diserang wabah dangdut mania, organ tunggal tak kalah pesat pertumbuhannya. Karena artis dangdut yang semakin banyak dan sering diundang main di luar negeri, maka pada tahun tersebut Rhoma Irama mengklaim bahwa Indonesia sudah Swasembada Dangdut.
 Di penghujung tahun 90-an, setelah Soeharto tumbang dari kekuasaannya, dangdut juga mengalami reformasi. Perubahan yang memunculkan warna baru pada dangdut itu sendiri, dangdut yang lebih agresif dan berani. Media televisi semakin berani menampilkan dangdut yang lebih erotis. Dangdut pada masa-masa ini memunculkan sikap pro dan kontra di masyarakat, saya sebut ini sebagai masa dangdut demokratis. Sebuah perubahan yang tidak hanya mengubah dangdut ke tataran yang lebih tinggi tetapi juga membuat dangdut menjadi lebih Indonesia.
Adalah seorang arek Jawa Timur bernama Ainur Rokhimah alias mbak inul yang menjadi penerobos pakem-pakem dangdut yang ada. Inul adalah oposisi Dakwah Dangdut Rhoma yang melarang berjudi dan mirasantika. Inul menjelma menjadi Protestannya dangdut, melawan ajaran-ajaran dangdut dari Rhoma Irama, hingga pada akhirnya harus dicekal oleh sang Raja. Sebenarnya yang ditawarkan inul bukanlah hal baru di Indonesia, goyang ngebor Inul hanyalah fenomena puncak gunung es dari goyang-goyang yang lebih seronok di daerah. Jika Inul hanya bergoyang dengan pantat, di daerah goyang penyanyi dangdutnya jauh lebih seronok dari mbak inul.  Agaknya Rhoma lupa pada situasi di Indonesia dimana dangdut sudah menjelma menjadi makanan pokok dan goyang erotis adalah lauknya. Namun pada situasi ini karir Inul akhirnya meredup juga karena dicekal dimana-mana dan dilarang menyanyikan lagu Rhoma, secara gitu “ Kak Rhoma” banyak relasinya. Sulit memang jika harus bertahan di kerajaan dangdut milik Rhoma irama. Media yang dulu menaikkan pamornya kini juga menghempaskannya jauh-jauh. Paling tidak mbak Inul sudah menjadi tokoh reformasi dangdut. Kelahiran goyang ngebor melahirkan goyang patah-patah, ngecor, goyang gergaji, obeng, sendok tembok, dan goyang perkakas lainnya. Saya harap mbak inul sabar, masih banyak jalan menuju Rhoma. Mbak inul masih cukup kaya kan dari hasil buka karaoke. Mas Adam Air pasti bangga punya istri seperti mbak inul.
 Kejadian cekal-mencekal seperti mbak Inul kembali terulang, kini Dewi Persik yang dicekal tapi bukan Kak Rhoma yang mencekal. Dewi persik dicekal oleh walikota Tangerang, Depok, dan Bandung serta oleh MUI Sumatera Selatan. Alasannya Goyang Dewi Persik dianggap seronok, menimbulkan nafsu birahi……..uuhhhhh  yeeaaahhh. Janda Syaiful Jamil ini pun kesal, marah, tapi juga sepertinya nrimo atas pencekalan terhadap dirinya. Mau balik mencekal juga gak guna kayaknya, memang siapa dia. Saran saya kepada Dewi Persik adalah mengganti nama ketika manggung di Tangerang, Depok, Bandung, dan di Sumatera Selatan supaya tidak dicekal. Jika manggung di Tangerang gantilah nama menjadi Dewi Persita laskar benteng, di Depok jadi Dewi Persikad, di Bandung jadi Dewi Persib Maung Bandung, dan di Sumsel jadi Dewi Sriwijaya FC laskar Wong Kito. Insya Allah sukses. Sukses bagi si Rajin tentunya.
 Kembali ke dangdut. Dangdut masa kini adalah dangdut variety show. Dangdut yang lahir dari Polling SMS, dangdut yang lahir dari drama isak tangis peserta audisi. Jika dulu Inul menangis karena dimarah Rhoma, sekarang penyanyi dangdut menangis karena dimarah Tuan Takur, siapa Tuan Takur? Ada lah di TPI. Dangdut sekarang sudah tidak murni lagi unsur India nya, dangdut sekarang sudah menjadi sangat-sangat Indonesia. Kenapa ? karena dangdut yang ditampilkan sekarang sangat instant tapi ingin cepat sukses, dangdut yang apa adanya, dangdut yang munafik, dangdut yang mengharap belas kasih orang. Sungguh sangat Indonesia bukan? Pasti bukan. Memangnya saya siapa berani-beraninya kritik dangdut, main musik saja tidak becus.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: