Dangdut is the Music of My Country?


Saudara-saudara, sudah pernah nonton konser dangdutkah? Hihihii
Dulu, pak Rhoma Irama bikin dangdut jadi musik nasional (jadi ngga kebarat-baratan seperti pop dan ngga tradisional seperti sinden misalnya). Cuma, orang-orang terpelajar pada bilang bahwa itu tuh menasionalkan sebuah ikon kelas bawah untuk menolak pop. Terus lama-lama pak Rhoma malah berdakwah lewat musik. Dan lama-lama lagi, dangdut malah jadi menu wajib kampanye parpol (kan pak Rhoma yang pada tahun 80-an adalah orang PPP, pas tahun 90-an jadi Golkar heheheee…). Eeeh tapi jangan lupa, dangdut tetap seksi lho dan dunia mengakuinya.
Nah, saya nanya lagi deh, sudah pernah nonton konser dangdut? Kalau sudah, bagaimana Anda mendefinisikannya?
a. sebagai ciri khas musik Indonesia
b. sebagai musik kelas bawah
c. sebagai media dakwah
d. sebagai hiburan politik, atau
e. sebagai musik yang seksi?
Dangdut banyak dibilang berasal dari musik India. Tapi karena sudah diadopsi dan diadaptasikan, musiknya jadi khas. Di bis-bis, musik dangdut adalah pilihan para pak sopir. Di terminal-terminal, dangdut juga terdengar dari radio-radio atau merdunya suara mas-mas pengamen. Dangdut populer sekali dalam masyarakat suburban dan pedesaan. Di desa-desa banyak juga pengajian akbar yang dilengkapi dengan pentas dangdut sebagai hiburan. Pentas dangdut seperti ini selalu saja ramai penonton (dan ironis sekali karena sewaktu pengajian malah sepi heheheee….). Bapak-bapak, ibu-ibu, kyainya, anak-anak, semua pengunjung pengajian menikmati alunan musik dangdut. Bukan hanya mereka, bahkan politisi juga menikmati musik dangdut dalam kampanye partai politiknya. Saya pernah datang ke konser dangdut (waktu konsernya saja tapi lho) partai Golkar di lapangan desa (saya ingatkan, tak selamanya lapangan itu hijau heheheee…). Bahkan pak lurah ikut joget😀 Meriah bukan? Lebih meriah lagi kalau konser dangdut diadakan di alun-alun dalam rangka bagi-bagi hadiah yang disponsori oleh perusahaan motor atau mobil. Weits… kalau ini kan event-nya lebih umum. Siapa saja bisa datang. Tapi jogetannya itu lho! Erotis bow!
Lalu bagaimana menjelaskan semuanya? Kalau dibilang ‘dangdut is the music of my country’ yaaah dangdut sekarang juga diremix dan didisco. Barat juga kan? Atau dangdut adalah musik kelas bawah? Buktinya Pak Jarwo Kwat juga suka. Media dakwah? Yeee kalau dakwahnya sepi, bukan media namanya, tapi penghambat! Heheheee…. Atau hiburan politik? Ah, itu sih cuma buat narik massa aja kayaknya ^_^
Sisi Seksi Dangdut
Dangdut sebagai musik yang cute and sexy? Nah! Coba ya, dari sekian puluh/ratus/ribu penonton konser dangdut, siapa sih yang bener-bener ndengerin lagunya dan memahami liriknya? Ah masak ada? Bukannya dangdut jaman sekarang lebih sebagai hiburan visual daripada audio? Orang datang ke konser dangdut bukan untuk menikmati musiknya, tapi gerakan penyanyinya. Goyangan dangdut saja sudah ada berapa tuh macamnya
Masalah berikutnya nih. Konser dangdut yang mendekati erotis itu diadakan di tempat umum. Yang datang bukan cuma mas-mas dan bapak-bapak, tapi juga ibu-ibu dan adik-adik. Jadi, bagaimana menjelaskan ini? Kalau cowok-cowok sih jelas, datang mau ngapain. Pasti mau joget dan nglirik mbak penyanyinya. Tapi cewek-cewek yang datang?
Jadi, setelah sekian banyak menulis ini, saya masih ngga bisa menyebutkan karakteristik dangdut yang sebenarnya. Menurut saya, dangdut itu kompleks sekali. Banyak sifatnya, banyak peminatnya. Sangat mungkin jika kelima karakteristik yang berbeda-beda yang saya sebut tadi itu bisa muncul sekaligus dalam satu event saja.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: