Elekton Erotis Masuk Kampung!

Entah kapan mulainya, tapi sekarang ini semakin marak saja. Ca’doleng-doleng, istilah kampung di Sulawesi Selatan untuk biduanita organ tunggal yang berani tampil vulgar di panggung, Dengan sengaja mempertontonkan aurat untuk mendapatkan saweran dari penonton. Liukan tubuh sang biduanita seirama dengan musik dangdut atau lagu daerah yang dinyanyikannya tak ayal membuat pesona tersendiri bagi penonton yang pada umumnya pria. Sehingga tidak sedikit yang berani merogoh kantong untuk saweran. Bahkan katanya, hanya dengan 10 ribu rupiah sudah bisa pegang-pegang sang biduanita. Astaghfirullah…

Hiburan dengan biduanita seksi yang kerap mengumbar syahwat bukan barang baru. Di pulau Jawa kita kenal istilah Ronggeng atau Sinden atau sejenisnya, yang juga bintangnya dengan sengaja menggoda syahwat pria untuk mendapatkan saweran. Bahkan saweran itu bisa diselipkan oleh si pemberi langsung ke bra sang primadona. Sementara itu, hiburan striptease yang juga bukan barang baru, semakin marak digelar di kamar hotel berbintang, klub malam dan karaoke tanpa malu-malu.

Dengan mengatasnamakan kepentingan perut semakin banyak saja orang yang mengumbar aurat. Kalau itu digelar di kamar hotel, klub malam atau karaoke atau di tempat tertutup lainnya mungkin masih termaafkan. Tapi bayangkan kalau hal itu dilakukan di sebuah pesta pernikahan!

Kembali ke Ca’doleng-doleng yang marak di pelosok daerah Sulawesi Selatan. Mulai dari Makassar, Gowa, Takalar, Sidrap, Wajo, Soppeng, Bone dan sejumlah kabupaten lainnya sudah dirambah elekton mesum ini. Paling sering ditanggap untuk memeriahkan pesta perkawinan. Memang ketika mengawali pertunjukan, penampilan penyanyinya biasa-biasa saja dan goyangannya masih terbilang sopan. Tapi ketika malam sudah semakin larut, sang penyanyi mulai melancarkan rayuan maut kepada penonton yang masih bertahan. Tentu dengan goyangan yang “menggoyang” seluruh bagian tubuhnya. Mulailah saweran menantang ditawarkan ke panggung. Satu persatu pakaian sang biduanita pun dilepas. Tambah banyak saweran, tambah sedikit kain yang melekat di tubuhnya. Serunya lagi, sekarang bukan hanya pada malam hari saja, tapi siang bolong pun pertunjukan itu digelar. Bisa dibayangkan, yang menyaksikannya bukan hanya pria dewasa, tapi ikut ditonton oleh anak-anak yang semestinya tidak menyaksikan pertunjukan seperti itu.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: