Dangdut (evolusi atau degradasi)


Tahun 1970-an, dangdut dikenal juga dengan nama musik melayu. Musiknya mendayu-dayu, mendengarkannya orang bisa menikmatinya sebagai sebuah alunan lagu. Contoh-contoh artis dangdut jaman itu adalah Ida Laela, Ahmadi dan grupnya Arwana. Gayang seperti saat ini tidak pernah dibayangkan oleh orang masu lalu bisa ada pada msuik dangdut, memang terdapat orang bergoyang tapi santai sangat santai lagu-lagu saat itu mirip-mirip lagu Melayu yang saat ini masih terdapat di Sumetera.
Era Rhoma Irama menjadi penanda awal bagi musim dangdut, musik yang asalnya mendayu-dayu dan terkesan monoton dirombak oleh Rhoma dengan memadukan unsur Rock dan India. Jadilah musik dangdut menjadi lebih atraktif dan lebih enerjik, orang bergoyang pun mulai lebih bersemangat. Artis-artis pada periode ini adalah Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Mansur S, dll. Periode artis-artis tersebut berjaya pada tahun 1980-an, tahun 1990-an nama seperti Imam S. Arifin, Jamal Mirdad, Evi Tamala, Yus Yunus, A. Latief, dst. sempat berjaya. Priode ini bertahan hingga tahun 2000, tahun 2001 musik dangdut memulai babak baru, musik massa ini dihebohkan dengan kemunculan ikon baru, Inul Daratista. Nyanyian dangdut kemudian diramu dengan goyang yang menggoda sungguh membuat banyak penikmat musik dangdut pinggiran mengenal sosok Inul. Saya sendiri mengenal Inul baru pada tahun 2000-2001, saat itu Inul sudah menjadi perbicangan di kalangan penimat dangdut Jawa Timur. Tapi jujur Inul banyak terkenal di kalangan para pemuda di JawaTimur. Dan baru tahun 2002 Inul hijrah ke Jakarta dan menelorkan lagu yang masih digarap dengan apa adanya, entah apa judul lagunya saat itu (seingat saya, Inul sudah tampil di TV nasional sebelum lagu “Cinta dikocok-kocok”).
Sejak fenomena Inul, penyanyi yang memadukan musik dangdut dengan goyangan hot terus bermunculan,. Orkes-orkes melayu pun berkembang dari orkes yang beralat musik lengkap yang untuk mengundangnya membutuhkan uang di atas lima juta berkembang hingga orkes yang hanya mengandalkan organ tunggal yang bertarif satu juta-an. Dan seronoknya hampir semua orkes-orkes tersebut mengandalkan tubuh dan goyangan dalam setiap pementasannya. Padahal suara penyanyinya pas-pasan, pas didengar pas dilihat.
Sedikit menengok ke belakang lagi. Sebenarnya dangdut dengan tari seronok dan musik keras itu sudah berkembang sejak tahun 1990-an. Saya melihatnya di pub-pub di kawasan merah Dolly. Di tempat-tempat tersebut, musik dangdut yang masih biasa-biasa saja dipadu dengan musik remix atau disco, tak tanggung-tanggung lagu-lagu Rhoma Irama yang bernada agamis pun di jadikan remix dan kemudian diperdengarkan dengan biduan-biduan samlohe lengkap dengan minuman keras di meja pengunjung. Nah, jika menilik dari sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya fenomena musik dangdut erotis yang banyak diperankan organ-oragan tunggal berawalnya dari sini, dulu hiburan yang hanya bisa dinikmati di ruangan terbatas tersebut yang meniknatinya harus sembunyi-sembunyi dari istri kini bisa dinikmati secara bebas oleh masyarakat umum dipertonotonkan di hadapan publik mulai dari nenek-neke peyot hingga anak-anak kecil yang berada dalam masa duplikasi prilaku.
Entah ini evolusi musik dangdut atau degradasi kualitas. Jika evolusi seharusnya musik dangdut mengarah pada kualitas yang lebih baik dari sebelumnya, tapi buktinya tidak. Musik dangdut saat sekarang ini kering dari nilai-nilai, musiknya tidak menggambarkan seni tingkat tinggi, lagunya pun banyak yang daur ulang dari lagu-lagu lama. Apalagi jika dilihat dari penciptaan lagu, era penciptaan lagu dangdut saat sekarang ini jauh tertinggal dari penciptaan lagu dangdut tahun 1980-1990-an baik secara kuantitas maupun kualitas. Tapi mau bagaimana lagi, eksploitasi goyangan dan tubuh akan terus marak karena laki-laki juga lebih suka melihat atau lebih tepatnya memelototi tubuh wanita ketimbang menilai kualitas suara dan artistik sebuah lagu yang dibawakan serta pesan yang ingin disampaikan. Entah ini evolusi atau degradasi?.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: