Dangdut Kampungan?????

Masalah selera terhadap musik adalah universal dan relatif sifatnya. Selama tujuan mendengarkan musik itu tercapai (such as untuk kesenangan, having fun, sebagai pengiring aktivitas dll), lalu apakah dasarnya kita bisa menjudge suatu jenis musik itu kampungan? Kampungan dalam hal ini asosiasinya adalah ketinggalan zaman, tidak modern, tidak cool dan sejenisnya. Musik dangdut mungkin identik dengan di kampung, musiknya orang desa. Paling tidak begitulah kira2 stereotype umum di masyarakat kita. Di satu sisi, mungkin musik dangdut menjadi sangat norak dan tidak listener friendly, namun hal itu sama saja dengan jenis musik lainnya. Tidak ada satu jenis musik yang sempurna…..Seringkali istilah itu terdengar dalam keseharian kita. Tetapi apakah benar begitu adanya? Atau ada semacam budaya dalam masyarakat yang sengaja membentuk stereotipe tersebut?
Dangdut memang telah lama kita kenal di negeri ini, tetapi tidak banyak yang tahu bagaimana awal mula kemunculan musik yang begitu populer pada kalangan kelas bawah ini.
Dalam sebuah situs ensiklopedi dijelaskan bahwa bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang, masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi).
Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya.
Kemudian sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.
Hal yang juga banyak tidak diketahui adalah asal nama dangdut itu sendiri yang merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut.
Selain itu, sebutan ’dangdut’ merupakan ejekan yang diambil begitu saja oleh intelek perkotaan Billi Silabumi di majalah Aktuil, ketika membahas musik Melayu yang laris manis bagai kacang goreng di kalangan masyarakat bawah.
Sebenarnya sejak awal kemunculannya, musik ini diperuntukkan untuk semua kelas atau kalangan. Namun pada perkembangannya justru musik ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari kalangan kelas bawah.
Dalam pandangan saya, hal yang membuat musik ini begitu diminati kalangan bawah adalah jenis musik yang ringan disertai dengan lirik lagu yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penikmat musik ini tidak harus memutar otak untuk memahami maksud dari lagu.
Di negeri ini, masyarakat intelektual berjumlah lebih sedikit dibanding yang non intelektual. Sehingga tidak heran apabila saat dangdut begitu populer pada kalangan kelas bawah, seluruh media massa mengeksposnya habis-habisan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hall yang menyatakan bahwa televisi berdampak pada ’ketentuan dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, imajinasi sosial, dimana kita memersepsikan ”dunia”, ”realitas yang dijalani” orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi kehidupan mereka dan kehidupan kita melalui ”dunia secara keseluruhan” yang dapat dipahami.
Jadi tidak salah apabila saya mengambil kesimpulan bahwa media massa dalam hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat dangdut semakin diminati.
Jika ditinjau dalam segi budaya, dangdut begitu diminati masyarakat karena mempunyai kedekatan terhadap budaya kita. Dimana musik ini menggunakan irama melayu yang juga merupakan bagian dalam kebudayaan kita.
Memang awal kemunculan musik ini adalah musik yang diminati kalangan bawah, namun seiring perkembangannya, kita banyak mendapati musik dangdut pada setiap acara resmi. Bahkan dahulu ada beberapa petinggi yang dengan bangga menyanyikan musik tersebut dalam setiap acaranya.
Dengan kata lain saat itu musik dangdut sempat terangkat dimana insan dangdut yang mengangkatnya. Tetapi lucunya, musik tersebut kembali memiliki anggapan kampungan karena ulah insan dangdut itu sendiri.
Hal ini dapat dilihat bagaimana keberadaan musik dangdut dari panggung ke panggung. Dewasa ini, pertunjukan dangdut bukanlah mengandalkan kepiawaian bermain musik ataupun bernyanyi, melainkan ’kelincahan’ penyanyinya dalam bergoyang.
Sehingga muncul kontroversi mengenai hal tersebut yang mana dangdut dianggap sudah menjadi sarana eksploitasi seksualitas, dalam hal ini adalah perempuan.
Hal inilah yang kemudian semakin membuat sebagian masyarakat khususnya kalangan intelektual, beranggapan bahwa musik dangdut itu kampungan.
Apabila kita mengungkit lagi masalah dangdut yang dianggap sebagai musik kampungan, menurut saya hal ini agak rumit. Dalam arti ketika kita berbicara mengenai musik, berarti tidak hanya meliputi alunan musiknya ataupun lirik lagunya saja tetapi juga mengenai selera individu.
Tetapi saat ini stereotipe sebagai musik kampungan telah melekat pada dangdut. Lepas dari itu, musik ini tidak hanya diminati di dalam tetapi juga di luar negeri. Sekarang tinggal anda sendiri, apakah anda termasuk orang yang menganggap musik dangdut kampungan atau tidak??

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: